Kamis, 31 Juli 2008

Sekarang sudah malam menjelang pagi. Rumahku sudah sunyi senyap. Yang ada hanya suara-suara dengkuran halus dari anak-anakku dan terkadang suara dengkuran ayahnya juga. Hari ini adalah hari yang amat melelahkan bagiku. Dari mengejar jam tutup kantor perusahaan finance yang membuatku pontang panting untuk sampai kesana sebelum jam 12 siang supaya denda kredit yang sudah terlambat dibayar tidak bertambah terus. Lalu mengurusi pembantu rumah tanggaku yang sakit karena mau pulang kampung atau mau pulang kampung karena sakit, aku tidak tahu yang mana yang benar. Sampai mengurusi suamiku yang ketahuan telah membohongi aku.

Hari yang amat melelahkan bukan hanya bagi tubuhku tapi juga pikiran dan emosiku.

Suamiku, lelaki yang aku pilih untuk menikahiku, telah membohongi aku. Suamiku, lelaki yang aku pilih untuk menikahiku, karena rasa percayaku kepadanya kalau dia satu-satunya lelaki di dunia ini yang tidak akan tega mengkhianati dan membuatku menangis karena sakit hati. Tetapi ternyata aku salah. Ternyata suamiku tetaplah seorang lelaki. Seorang lelaki akan tetap menjadi seorang lelaki yang pasti akan membuat istrinya patah hati. Aku pikir suamiku berbeda dari lelaki-lelaki lain tetapi ternyata aku salah. Bukan suamiku yang salah tetapi aku yang salah karena sudah berharap lebih darinya. Seharusnya aku tahu kalau lelaki tetaplah lelaki. Tidak ada yang lebih baik satu sama lainnya.

Suamiku sedang tidur pulas sekarang seperti bayi yang tidak berdosa. Padahal dia yang telah berbohong. Sedangkan aku, tidak bisa tidur, padahal bukan aku yang berbohong. Mungkin dunia ini memang sudah terbalik. Yang berbuat dosa bisa tidur tenang sedangkan yang tidak berbuat dosa yang tidak bisa tidur. Padahal aku ingat orang tua zaman dulu suka berkata jangan melakukan hal yang tidak baik nanti tidurnya tidak tenang. Ternyata mereka memang sudah ketinggalan zaman, karena zaman sekarang orang yang berbuat dosa sudah bisa tidur tenang. Salah satu contohnya ya itu tadi, suamiku, lelaki yang sedang terbaring nyenyak disisiku.

Hatiku hancur tetapi aku sudah tidak bisa menangis lagi sekarang karena air mataku sudah habis. Dibohongi saja sudah menyakitkan apalagi kalau yang membohongi adalah lelaki yang kepadanya telah kuserahkan segenap kasih dan kepercayaanku. Hatiku perih sekali memikirkannya.

Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Mungkin 3 hari lagi aku akan tahu karena pikiranku mungkin sudah kembali waras. Tetapi, sekarang, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya perasaanku yang hancur berkeping-berkeping seperti ada yang menyayatnya pelan-pelan dengan sebuah silet. Suamiku tidak mau tahu. Dia memang tidak pernah mau tahu dari dulu. Yang dia tahu aku harus tetap tersenyum walaupun apapun yang terjadi. Bahkan walaupun dia sudah berbohong, aku masih harus tetap tersenyum, karena aku tidak punya bukti yang nyata.

Sayangku, tidak tahukah kamu, kalau hatiku adalah bukti yang terkuat. Sayangku, tidak tahukah kamu kalau perasaan seorang wanita itu sudah merupakan bukti yang jelas. Perasaan kami tidak pernah salah, namun hanya kalian yang terlalu sombong untuk mengakuinya.

Tidak ada komentar: