Aku paling benci orang yang merokok apalagi suamiku yang dulu suka merokok di depan anak-anakku. Untungnya sekarang dia sudah bisa menahan dirinya untuk tidak merokok di dekat anak-anakku.
Antara aku dan rokok, sepertinya tidak terjalin hubungan yang begitu baik diantara kami. Tetapi anehnya, rokok selalu ada disisiku pada saat aku sedang berada dalam keadaan yang sangat terpuruk sekali. Kasihan rokok karena aku hanya mau berhubungan dengan dia pada saat aku sedang sangat sedih saja. Sisanya, aku tidak mau dekat-dekat dia walaupun hanya asapnya saja.
Dulu sekali, hampir setiap saat rokok selalu ada di ujung lemari bajuku karena hampir setiap saat aku memerlukannya. Saat aku sedang sedih dan kecewa akan hidup ini, dia selalu siap untuk menemaniku. Kadang hanya melihat asapnya menguap di udara saja sudah membuatku bisa melupakan apa yang sedang terjadi walau hanya sesaat. Memainkannya di sela-sela jemariku saja sudah membuatku senang walau hanya sedikit. Aku tidak memerlukannya sehabis makan atau setiap saat. Kadang aku tidak menyentuh dia berhari-hari karena aku sibuk dan tidak ada waktu untuk menyendiri. Aku hanya mau menyentuhnya dalam kesendirianku saja karena itu yang membuatku tenang.
Tapi itu dulu….dulu sekali. Lalu hidupku berubah saat aku mengenal suamiku. Dia selalu membuatku tertawa dan tersenyum. Berada di dekatnya membuatku tenang dan bahagia. Aku berhenti menyimpan rokok di ujung lemari bajuku karena aku tidak membutuhkannya lagi. Saat berada di pelukannya aku merasa aman dan yakin kalau aku ingin menghabiskan hidupku bersamanya. Bagiku dia satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianatiku.
Aku suka berpikir kalau aku bukanlah orang yang baik untuk dia. Aku suka menyakiti hatinya dan membuatnya sedih tanpa aku sadari. Maafkan aku sayang karena aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti hatimu. Mungkin aku terlalu yakin kalau suamiku tidak akan menyakitiku sehingga aku tidak peka akan perasaannya. Maafkan aku sayang.
Sudah hampir lima tahun kami menikah dan itu berarti sudah lebih dari 6 tahun aku putus hubungan pribadiku dengan rokok. Tapi sekarang rokok sudah kembali di tempatnya yang dulu, di ujung lemari bajuku. Suamiku sudah melakukan hal yang tidak pernah kusangka akan kuterima dari dirinya. Suamiku sudah mengkhinatiku.
Hatiku kecewa dan hancur saat mengetahuinya. Begitu besarnyakah salahku padanya sehingga dia tega? Sangat hancurkah hatinya sudah kubuat sampai dia bisa membalasku seperti ini? Suamiku, ampuni aku kalau aku telah sangat mengecewakanmu sampai kau bisa berbuat hal ini. Bukan maksudku untuk membuatmu sedih tapi karena begitu tingginya keyakinanku akan cintamu yang membuatku lengah. Maafkan aku sayang.
Sepertinya rokok akan berteman denganku kembali untuk beberapa waktu ke depan. Sampai aku bisa melupakan…..bukan memaafkan. Karena aku sudah memaafkan suamiku, aku bukan orang yang bisa benci seseorang sampai berlama-lama apalagi orang yang harus tidur bersamaku di atas satu ranjang setiap malam. Aku sudah memaafkan namun ternyata, seperti kata The Corrs ‘forgiven but not forgotten’, memaafkan lebih mudah daripada melupakan. Setidaknya bagiku…..
Kamis, 31 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar