Sekarang sudah malam menjelang pagi. Rumahku sudah sunyi senyap. Yang ada hanya suara-suara dengkuran halus dari anak-anakku dan terkadang suara dengkuran ayahnya juga. Hari ini adalah hari yang amat melelahkan bagiku. Dari mengejar jam tutup kantor perusahaan finance yang membuatku pontang panting untuk sampai kesana sebelum jam 12 siang supaya denda kredit yang sudah terlambat dibayar tidak bertambah terus. Lalu mengurusi pembantu rumah tanggaku yang sakit karena mau pulang kampung atau mau pulang kampung karena sakit, aku tidak tahu yang mana yang benar. Sampai mengurusi suamiku yang ketahuan telah membohongi aku.
Hari yang amat melelahkan bukan hanya bagi tubuhku tapi juga pikiran dan emosiku.
Suamiku, lelaki yang aku pilih untuk menikahiku, telah membohongi aku. Suamiku, lelaki yang aku pilih untuk menikahiku, karena rasa percayaku kepadanya kalau dia satu-satunya lelaki di dunia ini yang tidak akan tega mengkhianati dan membuatku menangis karena sakit hati. Tetapi ternyata aku salah. Ternyata suamiku tetaplah seorang lelaki. Seorang lelaki akan tetap menjadi seorang lelaki yang pasti akan membuat istrinya patah hati. Aku pikir suamiku berbeda dari lelaki-lelaki lain tetapi ternyata aku salah. Bukan suamiku yang salah tetapi aku yang salah karena sudah berharap lebih darinya. Seharusnya aku tahu kalau lelaki tetaplah lelaki. Tidak ada yang lebih baik satu sama lainnya.
Suamiku sedang tidur pulas sekarang seperti bayi yang tidak berdosa. Padahal dia yang telah berbohong. Sedangkan aku, tidak bisa tidur, padahal bukan aku yang berbohong. Mungkin dunia ini memang sudah terbalik. Yang berbuat dosa bisa tidur tenang sedangkan yang tidak berbuat dosa yang tidak bisa tidur. Padahal aku ingat orang tua zaman dulu suka berkata jangan melakukan hal yang tidak baik nanti tidurnya tidak tenang. Ternyata mereka memang sudah ketinggalan zaman, karena zaman sekarang orang yang berbuat dosa sudah bisa tidur tenang. Salah satu contohnya ya itu tadi, suamiku, lelaki yang sedang terbaring nyenyak disisiku.
Hatiku hancur tetapi aku sudah tidak bisa menangis lagi sekarang karena air mataku sudah habis. Dibohongi saja sudah menyakitkan apalagi kalau yang membohongi adalah lelaki yang kepadanya telah kuserahkan segenap kasih dan kepercayaanku. Hatiku perih sekali memikirkannya.
Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Mungkin 3 hari lagi aku akan tahu karena pikiranku mungkin sudah kembali waras. Tetapi, sekarang, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya perasaanku yang hancur berkeping-berkeping seperti ada yang menyayatnya pelan-pelan dengan sebuah silet. Suamiku tidak mau tahu. Dia memang tidak pernah mau tahu dari dulu. Yang dia tahu aku harus tetap tersenyum walaupun apapun yang terjadi. Bahkan walaupun dia sudah berbohong, aku masih harus tetap tersenyum, karena aku tidak punya bukti yang nyata.
Sayangku, tidak tahukah kamu, kalau hatiku adalah bukti yang terkuat. Sayangku, tidak tahukah kamu kalau perasaan seorang wanita itu sudah merupakan bukti yang jelas. Perasaan kami tidak pernah salah, namun hanya kalian yang terlalu sombong untuk mengakuinya.
Kamis, 31 Juli 2008
Antara aku dan rokok
Aku paling benci orang yang merokok apalagi suamiku yang dulu suka merokok di depan anak-anakku. Untungnya sekarang dia sudah bisa menahan dirinya untuk tidak merokok di dekat anak-anakku.
Antara aku dan rokok, sepertinya tidak terjalin hubungan yang begitu baik diantara kami. Tetapi anehnya, rokok selalu ada disisiku pada saat aku sedang berada dalam keadaan yang sangat terpuruk sekali. Kasihan rokok karena aku hanya mau berhubungan dengan dia pada saat aku sedang sangat sedih saja. Sisanya, aku tidak mau dekat-dekat dia walaupun hanya asapnya saja.
Dulu sekali, hampir setiap saat rokok selalu ada di ujung lemari bajuku karena hampir setiap saat aku memerlukannya. Saat aku sedang sedih dan kecewa akan hidup ini, dia selalu siap untuk menemaniku. Kadang hanya melihat asapnya menguap di udara saja sudah membuatku bisa melupakan apa yang sedang terjadi walau hanya sesaat. Memainkannya di sela-sela jemariku saja sudah membuatku senang walau hanya sedikit. Aku tidak memerlukannya sehabis makan atau setiap saat. Kadang aku tidak menyentuh dia berhari-hari karena aku sibuk dan tidak ada waktu untuk menyendiri. Aku hanya mau menyentuhnya dalam kesendirianku saja karena itu yang membuatku tenang.
Tapi itu dulu….dulu sekali. Lalu hidupku berubah saat aku mengenal suamiku. Dia selalu membuatku tertawa dan tersenyum. Berada di dekatnya membuatku tenang dan bahagia. Aku berhenti menyimpan rokok di ujung lemari bajuku karena aku tidak membutuhkannya lagi. Saat berada di pelukannya aku merasa aman dan yakin kalau aku ingin menghabiskan hidupku bersamanya. Bagiku dia satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianatiku.
Aku suka berpikir kalau aku bukanlah orang yang baik untuk dia. Aku suka menyakiti hatinya dan membuatnya sedih tanpa aku sadari. Maafkan aku sayang karena aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti hatimu. Mungkin aku terlalu yakin kalau suamiku tidak akan menyakitiku sehingga aku tidak peka akan perasaannya. Maafkan aku sayang.
Sudah hampir lima tahun kami menikah dan itu berarti sudah lebih dari 6 tahun aku putus hubungan pribadiku dengan rokok. Tapi sekarang rokok sudah kembali di tempatnya yang dulu, di ujung lemari bajuku. Suamiku sudah melakukan hal yang tidak pernah kusangka akan kuterima dari dirinya. Suamiku sudah mengkhinatiku.
Hatiku kecewa dan hancur saat mengetahuinya. Begitu besarnyakah salahku padanya sehingga dia tega? Sangat hancurkah hatinya sudah kubuat sampai dia bisa membalasku seperti ini? Suamiku, ampuni aku kalau aku telah sangat mengecewakanmu sampai kau bisa berbuat hal ini. Bukan maksudku untuk membuatmu sedih tapi karena begitu tingginya keyakinanku akan cintamu yang membuatku lengah. Maafkan aku sayang.
Sepertinya rokok akan berteman denganku kembali untuk beberapa waktu ke depan. Sampai aku bisa melupakan…..bukan memaafkan. Karena aku sudah memaafkan suamiku, aku bukan orang yang bisa benci seseorang sampai berlama-lama apalagi orang yang harus tidur bersamaku di atas satu ranjang setiap malam. Aku sudah memaafkan namun ternyata, seperti kata The Corrs ‘forgiven but not forgotten’, memaafkan lebih mudah daripada melupakan. Setidaknya bagiku…..
Antara aku dan rokok, sepertinya tidak terjalin hubungan yang begitu baik diantara kami. Tetapi anehnya, rokok selalu ada disisiku pada saat aku sedang berada dalam keadaan yang sangat terpuruk sekali. Kasihan rokok karena aku hanya mau berhubungan dengan dia pada saat aku sedang sangat sedih saja. Sisanya, aku tidak mau dekat-dekat dia walaupun hanya asapnya saja.
Dulu sekali, hampir setiap saat rokok selalu ada di ujung lemari bajuku karena hampir setiap saat aku memerlukannya. Saat aku sedang sedih dan kecewa akan hidup ini, dia selalu siap untuk menemaniku. Kadang hanya melihat asapnya menguap di udara saja sudah membuatku bisa melupakan apa yang sedang terjadi walau hanya sesaat. Memainkannya di sela-sela jemariku saja sudah membuatku senang walau hanya sedikit. Aku tidak memerlukannya sehabis makan atau setiap saat. Kadang aku tidak menyentuh dia berhari-hari karena aku sibuk dan tidak ada waktu untuk menyendiri. Aku hanya mau menyentuhnya dalam kesendirianku saja karena itu yang membuatku tenang.
Tapi itu dulu….dulu sekali. Lalu hidupku berubah saat aku mengenal suamiku. Dia selalu membuatku tertawa dan tersenyum. Berada di dekatnya membuatku tenang dan bahagia. Aku berhenti menyimpan rokok di ujung lemari bajuku karena aku tidak membutuhkannya lagi. Saat berada di pelukannya aku merasa aman dan yakin kalau aku ingin menghabiskan hidupku bersamanya. Bagiku dia satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianatiku.
Aku suka berpikir kalau aku bukanlah orang yang baik untuk dia. Aku suka menyakiti hatinya dan membuatnya sedih tanpa aku sadari. Maafkan aku sayang karena aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti hatimu. Mungkin aku terlalu yakin kalau suamiku tidak akan menyakitiku sehingga aku tidak peka akan perasaannya. Maafkan aku sayang.
Sudah hampir lima tahun kami menikah dan itu berarti sudah lebih dari 6 tahun aku putus hubungan pribadiku dengan rokok. Tapi sekarang rokok sudah kembali di tempatnya yang dulu, di ujung lemari bajuku. Suamiku sudah melakukan hal yang tidak pernah kusangka akan kuterima dari dirinya. Suamiku sudah mengkhinatiku.
Hatiku kecewa dan hancur saat mengetahuinya. Begitu besarnyakah salahku padanya sehingga dia tega? Sangat hancurkah hatinya sudah kubuat sampai dia bisa membalasku seperti ini? Suamiku, ampuni aku kalau aku telah sangat mengecewakanmu sampai kau bisa berbuat hal ini. Bukan maksudku untuk membuatmu sedih tapi karena begitu tingginya keyakinanku akan cintamu yang membuatku lengah. Maafkan aku sayang.
Sepertinya rokok akan berteman denganku kembali untuk beberapa waktu ke depan. Sampai aku bisa melupakan…..bukan memaafkan. Karena aku sudah memaafkan suamiku, aku bukan orang yang bisa benci seseorang sampai berlama-lama apalagi orang yang harus tidur bersamaku di atas satu ranjang setiap malam. Aku sudah memaafkan namun ternyata, seperti kata The Corrs ‘forgiven but not forgotten’, memaafkan lebih mudah daripada melupakan. Setidaknya bagiku…..
Rabu, 02 Juli 2008
Aku sedang menunggu suamiku pulang.......
Aku paling benci dengan keadaan ini. Dimana aku harus menunggu tanpa kepastian. Dimana aku harus menunggu dengan hati berdebar-debar tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Aku paling tidak suka kalau jantungku berdebar-debar seperti ini. Sepertinya suamiku sedang menyembunyikan sesuatu dan aku tidak suka menjadi orang yang tidak tahu.
Aku menunggu kepulangan suamiku yang tidak jelas kemana perginya. Belum cukup larut karena baru jam 12.30 pagi tapi dia sudah pergi tanpa kabar selama 4,5 jam dan ternyata membohongiku dengan siapa dia pergi tadi siang. Jadi dia sudah pergi tanpa kabar selama 14,5 jam. Aku tidak suka kalau seseorang pergi tanpa kabar seperti ini, seperti sedang mengerjakan sesuatu yang aku tidak boleh tahu. Dan aku paling benci menjadi orang yang tidak tahu apalagi tidak tahu tentang keberadaan suamiku saat ini. Seorang istri harus mengetahui dimana suaminya berada walaupun mungkin dibohongi tapi yang penting dia tahu.
Aku matikan lagu-lagu yang dari tadi kupasang di playerku karena semakin lama lagu-lagu itu membuatku tambah senewen. Lebih baik aku mendengar deru-deru motor yang masih berlalu lalang diwaktu seperti ini. Lagu-lagu itu membuatku tidak bisa mendengar kalau-kalau ada suara pagar yang didorong atau suara langkah suamiku yang seperti tergesa-gesa padahal tidak.
Sekarang keadaan sudah sunyi senyap. Anak-anakku yang seharian penuh dengan keceriaan dan keributan sudah terlelap di ranjang mereka.
Ah…ada suara kunci ditaruh di atas meja. Berarti suamiku sudah pulang. Benar suamiku sudah pulang.
Suamiku sudah pulang. Aku pikir dia tidak akan pulang hari ini. Tetapi dia pulang. Akan kutanyakan kemana saja dia seharian.
Aku mohon, suamiku, jangan berbohong. Jangan membohongiku karena aku seorang istri. Seorang istri tidak suka dibohongi apalagi oleh suaminya. Seorang istri lebih suka dibohongi oleh sales kosmetik atau tukang sayur daripada oleh suaminya.
Sudahlah, aku mau bertanya dulu pada suamiku.
Aku menunggu kepulangan suamiku yang tidak jelas kemana perginya. Belum cukup larut karena baru jam 12.30 pagi tapi dia sudah pergi tanpa kabar selama 4,5 jam dan ternyata membohongiku dengan siapa dia pergi tadi siang. Jadi dia sudah pergi tanpa kabar selama 14,5 jam. Aku tidak suka kalau seseorang pergi tanpa kabar seperti ini, seperti sedang mengerjakan sesuatu yang aku tidak boleh tahu. Dan aku paling benci menjadi orang yang tidak tahu apalagi tidak tahu tentang keberadaan suamiku saat ini. Seorang istri harus mengetahui dimana suaminya berada walaupun mungkin dibohongi tapi yang penting dia tahu.
Aku matikan lagu-lagu yang dari tadi kupasang di playerku karena semakin lama lagu-lagu itu membuatku tambah senewen. Lebih baik aku mendengar deru-deru motor yang masih berlalu lalang diwaktu seperti ini. Lagu-lagu itu membuatku tidak bisa mendengar kalau-kalau ada suara pagar yang didorong atau suara langkah suamiku yang seperti tergesa-gesa padahal tidak.
Sekarang keadaan sudah sunyi senyap. Anak-anakku yang seharian penuh dengan keceriaan dan keributan sudah terlelap di ranjang mereka.
Ah…ada suara kunci ditaruh di atas meja. Berarti suamiku sudah pulang. Benar suamiku sudah pulang.
Suamiku sudah pulang. Aku pikir dia tidak akan pulang hari ini. Tetapi dia pulang. Akan kutanyakan kemana saja dia seharian.
Aku mohon, suamiku, jangan berbohong. Jangan membohongiku karena aku seorang istri. Seorang istri tidak suka dibohongi apalagi oleh suaminya. Seorang istri lebih suka dibohongi oleh sales kosmetik atau tukang sayur daripada oleh suaminya.
Sudahlah, aku mau bertanya dulu pada suamiku.
Langganan:
Postingan (Atom)