Fay menangis…sendirian…menangis
Selalu teringat akan seorang kekasih masa lalu
Dimanakah kekasih itu sekarang?
Fay termenung…
Mengingat saat-saat itu
Saat-saat mudanya yang penuh gairah, yang masih diisi oleh ketidakpedulian
Ketidak pedulian yang ia harapkan masih dimilikinya sekarang supaya kepalanya tidak seperti gunung yang akan meletus tetapi tidak bisa karena masih sedang menunggu perintah aba-aba dari Tuhan.
Ketidak perdulian yang ia harapkan masih tersisa agar ia bisa pergi meninggalkan semuanya tanpa memikirkan.
Ketidak pedulian yang ia harapkan bisa dipertahankan dalam dirinya tetapi ternyata tidak bisa. Ketidak pedulian itu pergi meninggalkan dirinya dengan tidak perduli akan hasrat yang ingin mempertahankannya. Ketidak perdulian itu perlahan pergi (atau ia suruh pergi) seiring berjalannya waktu, seiring dengan munculnya dua anak malaikat kecil yang membuat dirinya tidak bisa lagi tidak perduli.
Ketidak perdulian…diakah kekasih masa lalu yang sangat dirindukan Fay?
Kekasih yang selalu menemaninya setiap saat. Saat dia sedang bahagia karena jatuh cinta dan saat dia hancur karena patah hati. Kekasih yang membuatnya tegar saat ibunya mengaku tidak pernah mencintai ayahnya. Kekasih yang membuatnya kuat saat menyaksikan pertengkaran-pertengkaran dan perkelahian demi perkelahian antara ibunya dan ayahnya. Perkelahian demi perkelahian yang awalnya hanya terdengar suaranya dari balik pintu sampai akhirnya tanpa malu-malu terjadi di depan ia dan adik-adiknya. Perkelahian-perkelahian itu awalnya membuat ia dan adik-adiknya menangis ketakutan tetapi lama-lama noda darah bercampur pecahan-pecahan beling di lantai menjadi pemandangan yang biasa.
Tetapi kenapa aksi baku hantam itu tidak seperti di sinetron-sinetron televisi. Di rumah Fay, ibu tidak menangis tersujud-sujud di hadapan Ayah seperti di sinetron. Di rumah Fay, Ibu selalu membalas yang mungkin membuat Ayah semakin marah. Apakah seharusnya ibu diam saja agar damai segera tercipta. Mungkin ibu bukanlah wanita jaman dulu yang hanya diam menerima perlakuan suaminya. Mungkin ibu adalah wanita modern yang menganggap bahwa pria dan wanita adalah sama.
Anggapannya itu juga yang membuat ibu lebih senang pergi-pergi bersama pacar-pacarnya daripada menemani anak-anaknya jalan-jalan ke Ancol. Yang sering membuat Fay menangis setiap pulang ke rumah dan melihat ayahnya sedang menonton TV sendirian. Yang sering membuat Fay berubah pikiran untuk tinggal dirumah saja karena tidak tega meninggalkan ayahnya sendirian, tetapi akhirnya ia pergi juga karena tidak tahan melihat raut wajah sang ayah yang kesepian. Yang membuat ia lebih memilih untuk bergoyang di bawah pengaruh Ecstasy di gelapnya lampu diskotek. Bukan karena ia lebih suka begitu tapi hanya itu yang bisa membuatnya tidak memikirkan. Fay ketagihan bukan karena ia suka apalagi membayangkan 4-5 jam kemudian saat pengaruh obatnya perlahan menguap dari otaknya bercampur dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya dan pasangannya tapi karena itu yang bisa membuatnya melupakan walau hanya sejenak.
Ketidak perdulian, kekasih masa lalu Fay, yang membuatnya tegar melindungi ibu dan adik-adiknya dari kejaran orang-orang yang dihutangi ayahnya. Saat akhirnya sang ayah memutuskan untuk meninggalkan keluarganya beserta aset-aset dimana-mana yang tetap tidak cukup untuk melunasi hutang-hutang yang ditinggalkan. Ketidak perdulianlah yang membuatnya bisa bertahan walaupun ada janin kecil yang sedang bersandar hidup juga kepadanya di dalam perutnya.
Ketidak pedulian, ciri anak muda yang sangat dibenci oleh generasi masa lalu. Generasi masa lalu yang menganggap terlalu banyak anak muda yang sudah tidak perduli lagi sekarang, yang menjadi tidak sopan karena terlalu tidak perduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Andai saja mereka tahu kalau ketidak perdulianlah yang membuat orang bisa bertahan hidup dijaman seperti sekarang ini. Andai saja mereka mengerti kalau ketidak perdulianlah yang diperlukan agar orang tidak menjadi gila dijaman edan seperti sekarang ini. Andai saja mereka tahu kalau tidak ada ketidak perdulian, Fay sudah mati dari dulu tergeletak di atas genangan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya yang tersayat-sayat di hampir setiap kejadian yang menghancurkan hatinya. Andai saja mereka tahu.
Jakarta, 17 June 2008
Selasa, 17 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar