Kamis, 21 Agustus 2008

God chooses a mom for a disbled child

Most women become mothers by accident, some by choice, a few by social pressures, and a couple by habit. This year, nearly 100,000 women will become mothers of handicapped children. Did you ever wonder how mothers of handicapped children are chosen? Somehow I visualize God hovering over Earth selecting his instruments for propagation with great care and deliberation. As he observes, he instructs his angels to make notes in a giant ledger.

"Armstrong, Beth; son; patron saint, Matthew.

"Forrest, Marjorie; daughter; patron saint, Cecelia.

"Rudledge, Carrie; twins; patron saint.... give her Gerard. He's used to profanity."

Finally, he passes a name to an angel and smiles, "Give her a handicapped child."

The angel is curious. "Why this one, God? She's so happy."

"Exactly," smiles God. "Could I give a handicapped child a mother who does not know laughter? That would be cruel."

"But has she patience?" asks the angel.

"I don't want her to have too much patience or she will drown in a sea of self-pity and despair. Once the shock and resentment wears off, she'll handle it. I watched her today. She has that feeling of self and independance. She'll have to teach the child to live in her world and that's not going to be easy."

"But, Lord, I don't think she even believes in you."

God smiles. "No matter. I can fix that. This one is perfect. She has just enough selfishness."

The angel gasps, "Selfishness? Is that a virtue?"

God nods. "If she can't seperate herself from the child occasionally, she'll never survive. Yes, there is a woman I will bless with a child less then perfect. She doesn't realize it yet, but she is to be envied. She will never take for granted a 'spoken word.' She will never consider a 'step' ordinary. When her child says 'Momma' for the first time, she will be present at a miracle and know it! When she describes a tree or a sunset to her blind child, she will see it as few people ever see my creations.

"I will permit her to see clearly the things I see --- ignorance, cruelty, prejudice --- and allow her to rise above them. She will never be alone. I will be at her side every minute of every day of her life because she is doing my work as surely as she is here by my side."

"And what about her patron saint?" asks the angel, his pen poised in midair.

God smiles. "A mirror will suffice."

Kamis, 31 Juli 2008

Sekarang sudah malam menjelang pagi. Rumahku sudah sunyi senyap. Yang ada hanya suara-suara dengkuran halus dari anak-anakku dan terkadang suara dengkuran ayahnya juga. Hari ini adalah hari yang amat melelahkan bagiku. Dari mengejar jam tutup kantor perusahaan finance yang membuatku pontang panting untuk sampai kesana sebelum jam 12 siang supaya denda kredit yang sudah terlambat dibayar tidak bertambah terus. Lalu mengurusi pembantu rumah tanggaku yang sakit karena mau pulang kampung atau mau pulang kampung karena sakit, aku tidak tahu yang mana yang benar. Sampai mengurusi suamiku yang ketahuan telah membohongi aku.

Hari yang amat melelahkan bukan hanya bagi tubuhku tapi juga pikiran dan emosiku.

Suamiku, lelaki yang aku pilih untuk menikahiku, telah membohongi aku. Suamiku, lelaki yang aku pilih untuk menikahiku, karena rasa percayaku kepadanya kalau dia satu-satunya lelaki di dunia ini yang tidak akan tega mengkhianati dan membuatku menangis karena sakit hati. Tetapi ternyata aku salah. Ternyata suamiku tetaplah seorang lelaki. Seorang lelaki akan tetap menjadi seorang lelaki yang pasti akan membuat istrinya patah hati. Aku pikir suamiku berbeda dari lelaki-lelaki lain tetapi ternyata aku salah. Bukan suamiku yang salah tetapi aku yang salah karena sudah berharap lebih darinya. Seharusnya aku tahu kalau lelaki tetaplah lelaki. Tidak ada yang lebih baik satu sama lainnya.

Suamiku sedang tidur pulas sekarang seperti bayi yang tidak berdosa. Padahal dia yang telah berbohong. Sedangkan aku, tidak bisa tidur, padahal bukan aku yang berbohong. Mungkin dunia ini memang sudah terbalik. Yang berbuat dosa bisa tidur tenang sedangkan yang tidak berbuat dosa yang tidak bisa tidur. Padahal aku ingat orang tua zaman dulu suka berkata jangan melakukan hal yang tidak baik nanti tidurnya tidak tenang. Ternyata mereka memang sudah ketinggalan zaman, karena zaman sekarang orang yang berbuat dosa sudah bisa tidur tenang. Salah satu contohnya ya itu tadi, suamiku, lelaki yang sedang terbaring nyenyak disisiku.

Hatiku hancur tetapi aku sudah tidak bisa menangis lagi sekarang karena air mataku sudah habis. Dibohongi saja sudah menyakitkan apalagi kalau yang membohongi adalah lelaki yang kepadanya telah kuserahkan segenap kasih dan kepercayaanku. Hatiku perih sekali memikirkannya.

Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Mungkin 3 hari lagi aku akan tahu karena pikiranku mungkin sudah kembali waras. Tetapi, sekarang, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya perasaanku yang hancur berkeping-berkeping seperti ada yang menyayatnya pelan-pelan dengan sebuah silet. Suamiku tidak mau tahu. Dia memang tidak pernah mau tahu dari dulu. Yang dia tahu aku harus tetap tersenyum walaupun apapun yang terjadi. Bahkan walaupun dia sudah berbohong, aku masih harus tetap tersenyum, karena aku tidak punya bukti yang nyata.

Sayangku, tidak tahukah kamu, kalau hatiku adalah bukti yang terkuat. Sayangku, tidak tahukah kamu kalau perasaan seorang wanita itu sudah merupakan bukti yang jelas. Perasaan kami tidak pernah salah, namun hanya kalian yang terlalu sombong untuk mengakuinya.

Antara aku dan rokok

Aku paling benci orang yang merokok apalagi suamiku yang dulu suka merokok di depan anak-anakku. Untungnya sekarang dia sudah bisa menahan dirinya untuk tidak merokok di dekat anak-anakku.


Antara aku dan rokok, sepertinya tidak terjalin hubungan yang begitu baik diantara kami. Tetapi anehnya, rokok selalu ada disisiku pada saat aku sedang berada dalam keadaan yang sangat terpuruk sekali. Kasihan rokok karena aku hanya mau berhubungan dengan dia pada saat aku sedang sangat sedih saja. Sisanya, aku tidak mau dekat-dekat dia walaupun hanya asapnya saja.


Dulu sekali, hampir setiap saat rokok selalu ada di ujung lemari bajuku karena hampir setiap saat aku memerlukannya. Saat aku sedang sedih dan kecewa akan hidup ini, dia selalu siap untuk menemaniku. Kadang hanya melihat asapnya menguap di udara saja sudah membuatku bisa melupakan apa yang sedang terjadi walau hanya sesaat. Memainkannya di sela-sela jemariku saja sudah membuatku senang walau hanya sedikit. Aku tidak memerlukannya sehabis makan atau setiap saat. Kadang aku tidak menyentuh dia berhari-hari karena aku sibuk dan tidak ada waktu untuk menyendiri. Aku hanya mau menyentuhnya dalam kesendirianku saja karena itu yang membuatku tenang.


Tapi itu dulu….dulu sekali. Lalu hidupku berubah saat aku mengenal suamiku. Dia selalu membuatku tertawa dan tersenyum. Berada di dekatnya membuatku tenang dan bahagia. Aku berhenti menyimpan rokok di ujung lemari bajuku karena aku tidak membutuhkannya lagi. Saat berada di pelukannya aku merasa aman dan yakin kalau aku ingin menghabiskan hidupku bersamanya. Bagiku dia satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianatiku.


Aku suka berpikir kalau aku bukanlah orang yang baik untuk dia. Aku suka menyakiti hatinya dan membuatnya sedih tanpa aku sadari. Maafkan aku sayang karena aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti hatimu. Mungkin aku terlalu yakin kalau suamiku tidak akan menyakitiku sehingga aku tidak peka akan perasaannya. Maafkan aku sayang.


Sudah hampir lima tahun kami menikah dan itu berarti sudah lebih dari 6 tahun aku putus hubungan pribadiku dengan rokok. Tapi sekarang rokok sudah kembali di tempatnya yang dulu, di ujung lemari bajuku. Suamiku sudah melakukan hal yang tidak pernah kusangka akan kuterima dari dirinya. Suamiku sudah mengkhinatiku.


Hatiku kecewa dan hancur saat mengetahuinya. Begitu besarnyakah salahku padanya sehingga dia tega? Sangat hancurkah hatinya sudah kubuat sampai dia bisa membalasku seperti ini? Suamiku, ampuni aku kalau aku telah sangat mengecewakanmu sampai kau bisa berbuat hal ini. Bukan maksudku untuk membuatmu sedih tapi karena begitu tingginya keyakinanku akan cintamu yang membuatku lengah. Maafkan aku sayang.


Sepertinya rokok akan berteman denganku kembali untuk beberapa waktu ke depan. Sampai aku bisa melupakan…..bukan memaafkan. Karena aku sudah memaafkan suamiku, aku bukan orang yang bisa benci seseorang sampai berlama-lama apalagi orang yang harus tidur bersamaku di atas satu ranjang setiap malam. Aku sudah memaafkan namun ternyata, seperti kata The Corrs ‘forgiven but not forgotten’, memaafkan lebih mudah daripada melupakan. Setidaknya bagiku…..

Rabu, 02 Juli 2008

Aku sedang menunggu suamiku pulang.......

Aku paling benci dengan keadaan ini. Dimana aku harus menunggu tanpa kepastian. Dimana aku harus menunggu dengan hati berdebar-debar tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Aku paling tidak suka kalau jantungku berdebar-debar seperti ini. Sepertinya suamiku sedang menyembunyikan sesuatu dan aku tidak suka menjadi orang yang tidak tahu.

Aku menunggu kepulangan suamiku yang tidak jelas kemana perginya. Belum cukup larut karena baru jam 12.30 pagi tapi dia sudah pergi tanpa kabar selama 4,5 jam dan ternyata membohongiku dengan siapa dia pergi tadi siang. Jadi dia sudah pergi tanpa kabar selama 14,5 jam. Aku tidak suka kalau seseorang pergi tanpa kabar seperti ini, seperti sedang mengerjakan sesuatu yang aku tidak boleh tahu. Dan aku paling benci menjadi orang yang tidak tahu apalagi tidak tahu tentang keberadaan suamiku saat ini. Seorang istri harus mengetahui dimana suaminya berada walaupun mungkin dibohongi tapi yang penting dia tahu.

Aku matikan lagu-lagu yang dari tadi kupasang di playerku karena semakin lama lagu-lagu itu membuatku tambah senewen. Lebih baik aku mendengar deru-deru motor yang masih berlalu lalang diwaktu seperti ini. Lagu-lagu itu membuatku tidak bisa mendengar kalau-kalau ada suara pagar yang didorong atau suara langkah suamiku yang seperti tergesa-gesa padahal tidak.

Sekarang keadaan sudah sunyi senyap. Anak-anakku yang seharian penuh dengan keceriaan dan keributan sudah terlelap di ranjang mereka.

Ah…ada suara kunci ditaruh di atas meja. Berarti suamiku sudah pulang. Benar suamiku sudah pulang.

Suamiku sudah pulang. Aku pikir dia tidak akan pulang hari ini. Tetapi dia pulang. Akan kutanyakan kemana saja dia seharian.

Aku mohon, suamiku, jangan berbohong. Jangan membohongiku karena aku seorang istri. Seorang istri tidak suka dibohongi apalagi oleh suaminya. Seorang istri lebih suka dibohongi oleh sales kosmetik atau tukang sayur daripada oleh suaminya.

Sudahlah, aku mau bertanya dulu pada suamiku.

Selasa, 17 Juni 2008

Kekasih masa lalu Fay

Fay menangis…sendirian…menangis

Selalu teringat akan seorang kekasih masa lalu

Dimanakah kekasih itu sekarang?

Fay termenung…

Mengingat saat-saat itu

Saat-saat mudanya yang penuh gairah, yang masih diisi oleh ketidakpedulian
Ketidak pedulian yang ia harapkan masih dimilikinya sekarang supaya kepalanya tidak seperti gunung yang akan meletus tetapi tidak bisa karena masih sedang menunggu perintah aba-aba dari Tuhan.

Ketidak perdulian yang ia harapkan masih tersisa agar ia bisa pergi meninggalkan semuanya tanpa memikirkan.

Ketidak pedulian yang ia harapkan bisa dipertahankan dalam dirinya tetapi ternyata tidak bisa. Ketidak pedulian itu pergi meninggalkan dirinya dengan tidak perduli akan hasrat yang ingin mempertahankannya. Ketidak perdulian itu perlahan pergi (atau ia suruh pergi) seiring berjalannya waktu, seiring dengan munculnya dua anak malaikat kecil yang membuat dirinya tidak bisa lagi tidak perduli.

Ketidak perdulian…diakah kekasih masa lalu yang sangat dirindukan Fay?

Kekasih yang selalu menemaninya setiap saat. Saat dia sedang bahagia karena jatuh cinta dan saat dia hancur karena patah hati. Kekasih yang membuatnya tegar saat ibunya mengaku tidak pernah mencintai ayahnya. Kekasih yang membuatnya kuat saat menyaksikan pertengkaran-pertengkaran dan perkelahian demi perkelahian antara ibunya dan ayahnya. Perkelahian demi perkelahian yang awalnya hanya terdengar suaranya dari balik pintu sampai akhirnya tanpa malu-malu terjadi di depan ia dan adik-adiknya. Perkelahian-perkelahian itu awalnya membuat ia dan adik-adiknya menangis ketakutan tetapi lama-lama noda darah bercampur pecahan-pecahan beling di lantai menjadi pemandangan yang biasa.

Tetapi kenapa aksi baku hantam itu tidak seperti di sinetron-sinetron televisi. Di rumah Fay, ibu tidak menangis tersujud-sujud di hadapan Ayah seperti di sinetron. Di rumah Fay, Ibu selalu membalas yang mungkin membuat Ayah semakin marah. Apakah seharusnya ibu diam saja agar damai segera tercipta. Mungkin ibu bukanlah wanita jaman dulu yang hanya diam menerima perlakuan suaminya. Mungkin ibu adalah wanita modern yang menganggap bahwa pria dan wanita adalah sama.

Anggapannya itu juga yang membuat ibu lebih senang pergi-pergi bersama pacar-pacarnya daripada menemani anak-anaknya jalan-jalan ke Ancol. Yang sering membuat Fay menangis setiap pulang ke rumah dan melihat ayahnya sedang menonton TV sendirian. Yang sering membuat Fay berubah pikiran untuk tinggal dirumah saja karena tidak tega meninggalkan ayahnya sendirian, tetapi akhirnya ia pergi juga karena tidak tahan melihat raut wajah sang ayah yang kesepian. Yang membuat ia lebih memilih untuk bergoyang di bawah pengaruh Ecstasy di gelapnya lampu diskotek. Bukan karena ia lebih suka begitu tapi hanya itu yang bisa membuatnya tidak memikirkan. Fay ketagihan bukan karena ia suka apalagi membayangkan 4-5 jam kemudian saat pengaruh obatnya perlahan menguap dari otaknya bercampur dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya dan pasangannya tapi karena itu yang bisa membuatnya melupakan walau hanya sejenak.

Ketidak perdulian, kekasih masa lalu Fay, yang membuatnya tegar melindungi ibu dan adik-adiknya dari kejaran orang-orang yang dihutangi ayahnya. Saat akhirnya sang ayah memutuskan untuk meninggalkan keluarganya beserta aset-aset dimana-mana yang tetap tidak cukup untuk melunasi hutang-hutang yang ditinggalkan. Ketidak perdulianlah yang membuatnya bisa bertahan walaupun ada janin kecil yang sedang bersandar hidup juga kepadanya di dalam perutnya.

Ketidak pedulian, ciri anak muda yang sangat dibenci oleh generasi masa lalu. Generasi masa lalu yang menganggap terlalu banyak anak muda yang sudah tidak perduli lagi sekarang, yang menjadi tidak sopan karena terlalu tidak perduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Andai saja mereka tahu kalau ketidak perdulianlah yang membuat orang bisa bertahan hidup dijaman seperti sekarang ini. Andai saja mereka mengerti kalau ketidak perdulianlah yang diperlukan agar orang tidak menjadi gila dijaman edan seperti sekarang ini. Andai saja mereka tahu kalau tidak ada ketidak perdulian, Fay sudah mati dari dulu tergeletak di atas genangan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya yang tersayat-sayat di hampir setiap kejadian yang menghancurkan hatinya. Andai saja mereka tahu.

Jakarta, 17 June 2008

Rabu, 11 Juni 2008

Trying to be discipline.....

Things i'm trying to be discipline of:

1. Consistent with my blog
2. Finish off writing a short story (i'm very sleepy right now and don't have the mood to write now)(Kenapaaa sih ide-ide selalu bermunculan disaat2x yg tidak tepat)
3. Make juice for my sons
4. writing my expenses every day
5. Still thinking.............

Sabtu, 07 Juni 2008

marriage life

Kalo married itu cuma hanya untuk punya anak dan sibuk sendiri buat apa sih sebenernya semua org pada sibuk married. Toh nantinya yang jadi korban juga anak.

If getting married only to make me feel sad like this i strongly regret why i got married in the first place.

No wonder that people say marriage life sucks, IT DOES!!!

Am i wrong if i am angry just because i want my husband to go to bed with me instead of watching TV and sneaking into the bed hours later. And he called me selfish.If getting married means i still have to sleep by myself, why the hell should i get married before?

Rabu, 04 Juni 2008

News Today

FPI mau dibubarin --> dari dulu kaleee mestinyaaaa

Bea Cukai kena geledah KPK --> hmmm luckily i'm over with my family's importing business if not, i will have to suffer even more stressed headaches now.

By the way, udah 2 minggu nih BBM naek oh my GOD....berasa banget mahalnyaa .
masa isi 100 rb aja cuma naek dikit aja...

I found an interesting website today. It is designed by a grandfather for his autis grandson. I haven't tried the software yet but i will tomorrow, maybe it can be useful for my son.

Selasa, 20 Mei 2008

Remembering Sophan Sophian

Sophan Sophian, senior actor and politician, died few days ago. The news are still showing on TV until now. His funeral was attended by a lot of people from different kinds of professions. Even the president himself attended the funeral and said few words. I never watched his movies but i saw he and his wife, also an actress, in numbers of TV shows these days. They always show up as a couple and asked how they manage to stay romantic after all those years.

His wife and him married 36 years ago and had never have bad gossips about them until now. They are a perfect couple that almost every couple celebrities look up to them and make them a role model to follow.

Widyawati, his wife, looks very sad on TV. I could not imagine how much pain she is going through now. Losing a partner for 36 years is not easy. He had already become her other part. Can you imagine living without your other half of body, it must be difficult.

They really carried out their marriage vows to stay together in health and sicknesss, in good times and bad times, in poor or rich, till death do us apart. Widyawati did finally accompany him until the end of his life.

How sweet it is to be able to carry out your marriage vows until the end. Their love story touches me inside and their faithful marriage is a an envy to many.